Rabu, 14 Maret 2012

Status gizi masyarakat indonesia

Tugas kesmavet

Status Gizi Masyarakat Indonesia





OLEH
MUHAMMAD TORAS
1002101010049









FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH
2012


I. Pendahuluan


1.1. Latar Belakang
Masalah Gizi pada hakikatnya adalah masalah kesehatan masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak terlepas dari makanan, karena makanan adalah salah satu kebutuhan hidup, disamping udara (oksigen). Selain itu makanan juga harus memiliki Gizi yang baik. Gizi yang baik adalah Asupan makanan yang diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya, yaitu menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur proses kehidupan. Penyebab timbulnya masalah gizi adalah multifactor oleh karena itu pendekatan penanggulangannya harus melibatkan berbagai sector yang terkait. Masalah gizi di Indonesia dan Negara berkembang masih di dominasi oleh kurang energy protein (KEP), masalah anemia besi,masalah kurang vitamin dan masalah obesitas dikota-kota besar yang perlu di tanggulangi. Secara umum masalah gizi di Indonesia, terutama KEP masih lebih tinggi daripada Negara ASEAN lainnya (Supariasa,dkk 2002)

Dewasa ini banyak masyarakat kita yang mengabaikan fungsi makanan yang mempunyai Gizi tinggi. Banyak faktor yang menyebabkan masyarakat kurang peduli terhadap asupan makanannya. Misalnya dari segi ekonomi, masyarakat yang menengah kebawah hanya mementingkan perut kenyang saja tidak memikirkan makanan apa yang mengandung gizi tinggi. Kemudian pendidikan, banyak sebagian masyarakat yang kurang paham dengan fungsi-fungsi makanan yang mengandung Gizi tinggi. Tidak hanya itu saja masalah gizi sering berkaitan dengan masalah kekurangan pangan, keadaan krisis (bencana kekeringan, perang, kekacauan sosial, krisis ekonomi), masalah gizi juga bisa muncul akibat masalah ketahanan pangan dimasyarakat. Menyadari hal itu, peningkatan status gizi masyarakat memerlukan kebijakan yang menjamin setiap anggota masyarakat untuk memperoleh makanan yang bergizi dan cukup jumlah dan mutunya.


Ahmad Rusfidra (2005) menyatakan bahwa konsumsi protein hewani yang rendah banyak terjadi pada anak usia bawah lima tahun (balita), sehingga terjadi kasus busung lapar dan malnutrisi. Usia balita disebut sebagai periode “the golden age” (periode emas pertumbuhan), dimana sel-sel otak anak manusia sedang berkembang pesat. Fase ini, otak membutuhkan suplai protein hewani yang cukup agar berkembang optimal. Asupan kalori-protein yang rendah pada anak balita berpotensi menyebabkan gangguan pertumbuhan, meningkatkan risiko terkena penyakit, mempengaruhi perkembangan mental, menurunkan kecerdasan dan performa mereka di sekolah serta produktivitas tenaga kerja setelah dewasa

Populasi penduduk Indonesia yang sekitar 220 juta orang memerlukan kesediaan pangan hewani bermutu tinggi, halal dan aman dikonsumsi. Rataan konsumsi pangan hewani asal daging, susu dan telur masyarakat Indonesia adalah 4,1; 1,8 dan 0,3 gram/kapita/hari (Direktorat Jendral Peternakan, 2006). Angka angka tersebut barangkali jauh lebih rendah dari angka konsumsi standar Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi (LIPI, 1989) yaitu sebanyak 6 gram/kapita/hari atau setara dengan 10,3 kg daging/kapita/tahun, 6,5 kg telur /kapita/tahun, dan 7,2 kg susu/kapita/tahun (Direktorat Jendral Peternakan, 2006). Konsumsi pangan asal hewani akan meningkat sejalan dengan membaiknya keadaan ekonomi masyrakat maupun meningkatnya kesadaran masyarakat akan gizi baik.

Berlandandaskan latar belakang diatas maka di dalam makalah ini akan dibahas mengenai status gizi dan beberapa aspek yang berkaitan dengan status gizi.

1.2. Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah
 Dapat memahami definisi status gizi
 menjelaskan bagaimana kualitas Gizi di Indonesia
 menjelaskan upaya yang dilakukan untuk memperbaiki Gizi yang kurang di masyarakat


 Dapat memperluas wawasan tentang factor-faktor yang mempengaruhi status gizi seseorang
 Dapat memahami definisi Indikator status gizi



II. Rumusan Masalah

Apakah yang dimaksud dengan status gizi?
Apa saja yang dimaksud indicator status gizi?
Bagaimana cara penanggulangan masalah gizi?
Apa saja cara-cara dalam perbaikan gizi?



III. Tinjauan Pustaka

Gizi adalah suatu proses menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme, dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi.

Keadaan gizi adalah keadaan akibat dari keseimbangan antara konsumsi dan penyerapan gizi dan penggunaan zat gizi tersebut atau keadaan fisiologi akibat dari tersedianya zat gizi dalam sel tubuh (Supariasa, 2002).

Status gizi merupakan keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat gizi. Dibedakan atas status gizi buruk, gizi kurang, gizi baik, dan gizi lebih (Almatsier, 2006 yang dikutip oleh Simarmata, 2009).




Hal yang sama diutarakan oleh Daly, et al. (1979) bahwa konsep terjadinya keadaan gizi mempunyai faktor dimensi yang sangat kompleks. Faktor-faktor yang mempengaruhi keadaan gizi yaitu konsumsi makanan dan tingkat kesehatan. Konsumsi makanan dipengaruhi oleh pendapatan, makanan, dan tersedianya bahan makanan (Supariasa, 2002).

Menurut Suyatno, Ir. Mkes, Status gizi yaitu Keadaan yang diakibatkan oleh status keseimbangan antara jumlah asupan (“intake”) zat gizi dan jumlah yang dibutuhkan (“requirement”) oleh tubuh untuk berbagai fungsi biologis: (pertumbuhan fisik, perkembangan, aktivitas, pemeliharaan kesehatan, dan lainnya). Status gizi yang baik diperlukan untuk mempertahankan derajat kebugaran dan kesehatan, membantu pertumbuhan bagi anak, serta menunjang pembinaan prestasi olahragawan. Status gizi ini menjadi penting karena merupakan salah satu faktor risiko untuk terjadinya kesakitan atau kematian. Status gizi yang baik pada seseorang akan berkontribusi terhadap kesehatannya dan juga terhadap kemampuan dalam proses pemulihan kesehatan. Status gizi juga dibutuhkan untuk mengetahui ada atau tidaknya malnutrisi pada individu maupun masyarakat. Dengan demikian, status gizi dapat dibedakan menjadi gizi kurang, gizi baik, dan gizi lebih.

Status gizi (nutrition status) merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variable tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variable tertentu. (I Nyoman s,dkk,2002)
Kondisi kesehatan seseorang yang dipengaruhi oleh asupan dan pemanfaatan nutrisi disebut status gizi (Home science,2009)
Status gizi merupakan faktor yang terdapat dalam level individu (level yang paling mikro). Faktor yang mempengaruhi secara langsung adalah asupan makanan dan infeksi. Pengaruh tidak langsung dari status gizi ada tiga faktor yaitu ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan anak, dan lingkungan kesehatan yang tepat, termasuk akses terhadap pelayanan kesehatan (Riyadi, 2001 yang dikutip oleh Simarmata, 2009).

Gizi buruk merupakan kondisi kurang gizi yang disebabkan rendahnya konsumsi energi dan protein (KEP) dalam makanan sehari-hari (Arifin, 2007)
Konsumsi makanan merupakan salah satu faktor yang secara langsung berpengaruh terhadap status gizi seseorang, keluarga dan masyarakat. Rendahnya konsumsi pangan atau kurang seimbangnya masukan zat-zat gizi dari makanan yang dikonsumsi mengakibatkan terlambatnya pertumbuhan organ dan jaringan tubuh, terjadinya penyakit dan atau lemahnya daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit serta menurunnya kemampuan kerja. (Yuli Hartati,2005).
Berdasarkan penelitian Atmarita dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan pada 2010, tinggi badan anak laki-laki Indonesia pada umur 5 tahun rata-rata kurang 6,7 sentimeter dari tinggi yang seharusnya, sedangkan pada anak perempuan kurang 7,3 sentimeter. Anak umur 5 tahun seharusnya memiliki tinggi badan 110 sentimeter. Kurangnya konsumsi pangan hewani akan membuat kurangnya sejumlah zat gizi mikro yang menjadi kebutuhan dasar tumbuh kembang anak,” kata Minarto. Konsumsi pangan hewani tidak dapat digantikan jenis bahan pangan lain. Jenis pangan ini dapat diperoleh dari daging, aneka jenis ikan, dan telur.
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan besaran masalah KEP di Indonesia, yaitu gizi kurang, pendek dan kurus. Ketiga bentuk masalah KEP tersebut mempunyai riwayat dan pendekatan pemecahan yang berbeda. Secara umum besaran masalah KEP pada balita digambarkan paga grafik berikut.
Prevalensi Gizi Kurang Pada Balita
Sumber : Riskesdas 2007
Prevalensi gizi kurang tahun 2007 secara nasional sebesar 18,4%, yang berarti bahwa target RPJMN 2005-2009 yaitu penurunan prevalensi gizi kurang menjadi 20% dapat dicapai. Pencapaian menurut wilayah (propinsi dan kabupaten/kota) sangat bervariasi. beberapa propinsi seperti Propinsi Bali, DIY, DKI Jakarta dan Kepulauan Riau mempunyai prevalensi dibawah 15%, sementara Propinsi Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah dan Maluku masih mempunyai prevalensi diatas 25%. Prevalensi gizi kurang juga sangat bervariasi antar perkotaan – perdesaan, antar tingkat ekonomi, dan antar tingkat pendidikan.









Penilaian status gizi sangat penting. Penilaian status gizi merupakan proses pemeriksaan keadaan gizi seseorang dengan cara mengumpulkan data penting, baik yang bersifat objektif maupun subjektif, untuk kemudian dibandingkan dengan baku yang telah tersedia. Data objektif dapat diperoleh dari data pemeriksaan laboratorium perorangan, serta sumber lain yang dapat diukur oleh anggota tim penilai. Pada prinsipnya, penilaian status gizi anak serupa dengan penilaian pada periode kehidupan lain. Komponen penilaian status gizi meliputi (1) survei asupan makanan, (2) pemeriksaan biokimia, (3) pemeriksaan klinis, serta (4) pemeriksaan antropometris (Arisman, 2009).

Dalam Millenium Development Goals (MDGs) ditegaskan, pada tahun 2015 setiap negara berkomitmen menurunkan kemiskinan dan kelaparan separuh dari kondisi tahun 1990. Salah satu dari lima indikator sebagai penjabaran tujuan pertama MDGs adalah menurunnya jumlah penduduk dengan defisit energi (indikator kelima).



IV. Pembahasan

Undang-undang nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, khususnya pada Bab VIII tentang Gizi, pasal 141 ayat 1 menyatakan bahwa upaya perbaikan gizi masyarakat ditujukan untuk peningkatan mutu gizi perseorangan dan masyarakat.
Untuk mencapai tujuan program perbaikan gizi, yaitu meningkatkan kesadaran gizi keluarga dalam upaya meningkatkan status gizi masyarakat, ada pertanyaan yang menjadi dasar semua upaya yang akan kita lakukan ke depan. “Dimana posisi kita saat ini ?
Posisi kita sangat strategis karena pemenuhan gizi masyarakat khususnya pemenuhan gizi dari asal pangan hewan adalah tugas kita sebagai dokter hewan. Dokter hewan bertanggung jawab akan segala hal yang berkaitan dengan pangan asal hewan baik itu sebelum maupun setelah dikonsumsi.
Susu sebagai salah satu hasil komoditi peternakan, adalah bahan makanan yang menjadi sumber gizi atau zat protein hewani. Kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan tingkat kesadaran kebutuhan gizi masyarakat yang didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini dapat ditunjukkan dengan meningkatnya konsumsi susu dari 6.8 liter/kapita/tahun pada tahun 2005 menjadi 7.7 liter/kapita/tahun pada tahun 2008 (setara dengan 25 g/kapita/hari) yang merupakan angka tertinggi sejak terjadinya krisis moneter pada tahun 1997 (Ditjen Bina Produksi Peternakan, 2008 dan Sinar Harapan, 2007). Pembangunan sub sektor petemakan, khususnya pengembangan usaha sapi perah, merupakan salah satu alternatif upaya peningkatan penyediaan sumber kebutuhan protein.
Berdasarkan hasil laporan dari Depkes masalah gizi di Indonesia masih di dominasi dengan masalah KEP (kurang energy dan protein).
Angka Kecukupan Gizi Bagi Anak Berbagai Golongan Umur
Umur Berat (kg) Tinggi (cm) Energi (kkal) Protein (g)
0 – 6 bulan 6.0 60 550 10
7 – 11 bulan 8,5 71 650 16
1 – 3 tahun 12,0 90 1000 25
4 – 6 tahun 18,0 110 1550 39
7 – 9 tahun 250 120 1800 45
Sumber : Hardinsyah dan Tambunan, 2004 : 325
Dari table diatas dapat dilihat betapa protein sangat penting dan kebutuhannya kan hal itu meningkat setiap tahunnya.


Hal yang sama diutarakan oleh Daly,et al.(1979) bahwa konsep terjadinya keadaan gizi mempunyai factor dimensi yang sangat kompleks. Faktor-faktor yang mempengaruhi keadaan gizi yaitu konsumsi makanan dan tingkat kesehatan. Konsumsi makanan dipengaruhi oleh pendapatan makanan dan tersedianya bahan makanan (supriasa,2002)

Menghadapi tantangan dimasa mendatang, maka Indonesia harus mampu menghasilkan pangan asal hewan yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH). Keamanan pangan (food safety) merupakan persyaratan utama yang menjadi semakin penting tidak saja untuk kesehatan penduduk Indonesia dan dapat memenuhi gizi masyarakat Indonesia ( Endang Ekowati dan Hasan Abd. Sanyata ,Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner) ,sehingga status gizi masyarakat akan meningkat.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Status Gizi Seseorang
 Faktor Lingkungan
Lingkungan yang buruk seperti air minum yang tidak bersih, tidak adanya saluran penampungan air limbah, tidak menggunakan kloset yang baik, juga kepadatan penduduk yang tinggi dapat menyebabkan penyebaran kuman patogen.
 Faktor Ekonomi
Di banyak negara yang secara ekonomis kurang berkembang, sebagian besar penduduknya berukuran lebih pendek karena gizi yang tidak mencukupi dan pada umunya masyarakat yang berpenghasilan rendah mempunyai ukuran badan yang lebih kecil. Masalah gizi di negara-negara miskin yang berhubungan dengan pangan adalah mengenai kuantitas dan kualitas.
 Faktor Sosial-Budaya
Indikator masalah gizi dari sudut pandang sosial-budaya antara lain stabilitas keluarga dengan ukuran frekuensi nikah-cerai-rujuk, anak-anak yang dilahirkan di lingkungan keluarga yang tidak stabil akan sangat rentan terhadap penyakit gizi kurang. Juga indikator demografi yang meliputi susunan dan pola kegiatan penduduk, seperti peningkatan jumlah penduduk, tingkat urbanisasi, jumlah anggota keluarga, serta jarak kelahiran.
Tingkat pendidikan juga termasuk dalam faktor ini. Tingkat pendidikan berhubungan dengan status gizi karena dengan meningkatnya pendidikan seseorang, kemungkinan akan meningkatkan pendapatan sehingga dapat meningkatkan daya beli makanan.
 Faktor Biologis/Keturunan
Sifat yang diwariskan memegang kunci bagi ukuran akhir yang dapat dicapai oleh anak. Keadaan gizi sebagian besar menentukan kesanggupan untuk mencapai ukuran yang ditentukan oleh pewarisan sifat tersebut. Di negara-negara berkembang memperlihatkan perbaikan gizi pada tahun-tahun terakhir mengakibatkan perubahan tinggi badan yang jelas.
 Faktor Religi
Religi atau kepercayaan juga berperan dalam status gizi masyarakat, contohnya seperti tabu mengonsumsi makanan tertentu oleh kelompok umur tertentu yang sebenarnya makanan tersebut justru bergizi dan dibutuhkan oleh kelompok umur tersebut. Seperti ibu hamil yang tabu mengonsumsi ikan.
Pengaturan makanan adalah upaya untuk meningkatkan status gizi, antara lain menambah berat badan dan meningkatkan kadar Hb.



Pada tahun 2010, IPM (Indeks Pembangunan Manusia) Indonesia masih rendah. Yaitu berada pada peringkat 108 dari 182 negara, lebih rendah daripada tetangga kita. Kondisi ini sangat dipengaruhi oleh rendahnya status gizi. Kondisi ini menghambat pertumbuhan, perkembangan intelektual dan produktivitas. Anak kurang gizi pada saat balita bisa tumbuh pendek dan kecerdasannya tak maksimal. Tumbuh kembang otak 80 persen terjadi pada masa dalam kandungan sampai usia 2 tahun. Gambaran besarnya, kita dihadapkan pada risiko The Lost Generation 20 tahun mendatang. Bila membiarkan persoalan ini, kita akan kehilangan satu generasi.
Upaya perbaikan gizi akan lebih efektif jika merupakan bagian dari kebijakan penanggulangan kemiskinan dan pembangunan SDM. Membiarkan penduduk menderita masalah kurang gizi akan menghambat pencapaian tujuan pembangunan dalam hal pengurangan kemiskinan. Gerakan kebajikan ini memerlukan keterlibatan seluruh sektor terkait, dan masyarakat, bukan hanya menjadi persoalan Dinas Kesehatan semata.
Semangat otonomi daerah seharusnya merupakan peluang bagi Bupati/Walikota dalam percepatan pencapaian program perbaikan gizi termasuk peningkatan status gizi masyarakat. Gizi perlu menjadi indikator keberhasilan pembangunan konkret sebagai bagian dari program penghapusan kemiskinan.
Banyak faktor yang menyebabkan masyarakat kurang peduli terhadap asupan makanannya. Misalnya dari segi ekonomi, masyarakat yang menengah kebawah hanya mementingkan “Perut Kenyang” saja tidak memikirkan makanan apa yang mengandung gizi tinggi. Pengetahuan, banyak sebagian masyarakat yang kurang paham dengan fungsi-fungsi makanan yang mengandung Gizi tinggi. status gizi masyarakat memerlukan kebijakan yang menjamin setiap anggota masyarakat untuk memperoleh makanan yang bergizi dan cukup jumlah dan mutunya
Berdasarkan data yang dikeluarka Riskesdas terjadi penurunan data dilapangan masih jauh dari data yang telah di tetapkan.(sumber:rakyatmerdeka online).
Spesialis gizi klinis Prof. dr. Fasli Jalal PhD, SpGK me¬nya¬takan, pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi sejak usia dini sangat penting untuk meningkat¬kan kualitas sumber daya ma¬nusia secara keseluruhan. Menurutnya, salah satu ciri manusia berkualitas
adalah ma¬nusia yang cerdas. Untuk mem¬peroleh kecerdasan tersebut di¬butuhkan konsumsi makanan yang bergizi sejak usia dini.


V. Kesimpulan
Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu atau dapat dikatakan bahwa status gizi merupakan indikator baik-buruknya penyediaan makanan sehari-hari
Indikator status gizi yaitu tanda-tanda yang dapat memberikan gambaran tentang keadaan keseimbangan antara asupan dan kebutuhan zat gizi oleh tubuh
Beberapa faktor yang memengaruhi status gizi seseorang yaitu faktor lingkungan, faktor ekonomi, faktor sosial-budaya, faktor biologis/keturunan, dan faktor religi.














VI. Referensi


Anonimous: http://www.gizikia.depkes.go.id/archives/658\.diakses 7 maret 2012
Anonimous: http://tinarbuka-aw.students-blog.undip.ac.id/2011/07/445/. 7 maret 2012
Anonimous: http://ras-eko.blogspot.com/2011/10/status-gizi.html.7 maret 2012
Anonimous:http://alkhanza7.multiply.com/journal/item/2?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem.diakses 8 maret 2012
Anonimous: http://gominam-gominyun.blogspot.com/2011/11/riset-keperawatan-masih-rendahnya.html
www.gizikesehatan.ugm.ac.id
anonymous:http://www.llu/nutrition/vegguide.html#food
Hidayat S. 2005. Masalah Gizi di Indonesia : Kondisi Gizi Masyarakat
Memprihatinkan. http://www.Suara Pembaruan Online.

Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. 2009. Gizi dan Kesehatan Masyarakat Edisi Revisi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Hidayat S. 2005. Masalah Gizi di Indonesia : Kondisi Gizi Masyarakat
Memprihatinkan. http://www.Suara Pembaruan Online.
MB, Arisman. 2010. Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran (EGC)
Suyatno, Ir. MKes.______. Pengantar Penentuan Status Gizi . Semarang : Undip. Diunduh
Supariasa, I Dewa Nyoman dkk . 2001 . Penilaian Status Gizi. Jakarta : EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar